Level Kuanta Mastering English
adalah sebuah lompatan dan terobosan baru dalam metode pembelajaran bahasa
Inggris. Metode ini dibangun dan dikembangkan dari pemanfaatan
keunggulan-keunggulan Teknologi Level Kuanta, yang menitikberatkan pada proses
digitalisasi (pemaknaan dalam) terhadap ilmu di level energi.
Bila
dilihat dari cara bekerja otak, pada umumnya proses penguasaan (mastering)
terhadap sebuah keilmuan dan skill / keterampilan apapun dilakukan melalui 4
level:
1. Unconscious – Incompetent
(seseorang tidak menyadari kalau dia tidak memiliki kemampuan).
2. Conscious – Incompetent
(menyadari kalau tidak mampu) sehingga melakukan proses belajar.
3. Conscious – Competent
(menyadari kalau sudah memiliki kemampuan) karena proses belajar.
4. Unconscious – Competent
(tidak menyadari lagi dalam menggunakan kemampuannya), karena skill atau keilmuannya sudah memasuki level otomatis dan tersimpan dibawah sadar.
(seseorang tidak menyadari kalau dia tidak memiliki kemampuan).
2. Conscious – Incompetent
(menyadari kalau tidak mampu) sehingga melakukan proses belajar.
3. Conscious – Competent
(menyadari kalau sudah memiliki kemampuan) karena proses belajar.
4. Unconscious – Competent
(tidak menyadari lagi dalam menggunakan kemampuannya), karena skill atau keilmuannya sudah memasuki level otomatis dan tersimpan dibawah sadar.
Level
II dan level III adalah tahapan yang paling tidak nyaman. Pada tahap ini pada
umumnya orang mengerahkan tenaga, pikiran, dan konsentrasinya untuk menguasai
sebuah ketrampilan; biasanya dengan menghafal, membaca berulang-ulang,
mengerjakan latihan-latihan, dan sebagainya. Meskipun mereka sudah
menguasainya, mereka belum terbiasa dan masih ada rasa kekhawatiran hal-hal
yang membuat kegagalan.
Dalam metode pembelajarannya, Level Kuanta
Mastering English melakukan proses percepatan / akselarasi, bahkan bisa juga
dikatakan melakukan by-pass (mempersingkat) proses pembelajaran dari
level I langsung ke level IV. Level I dan III dipotong / dilalui dengan cepat, sehingga
proses belajar menjadi sangat mudah dan menyenangkan. Akibatnya, aktivitas
belajar yang secara umum dianggap tidak nyaman, sulit, mengerahkan banyak
tenaga, pikiran, dan konsentrasi dirubah sedemikian rupa menjadi sebuah proses
yang asyik dan menyenangkan, sehingga menjadi sebuah kebutuhan. Belajar tidak
lagi harus “berdarah-darah”, namun cukup dilakukan dengan tenang,
rileks, dan menyenang-kan, sebab ilmu adalah kekuatan, kenikmatan, dan
semangat, bukan beban berat yang terpaksa harus dijalani. Ia seharusnya
menguatkan bukan malah membebani, membosankan, atau malah melelahkan.