Tuesday, 26 June 2012

LEVEL KUANTA MASTERING ENGLISH

Level Kuanta Mastering English adalah sebuah lompatan dan terobosan baru dalam metode pembelajaran bahasa Inggris. Metode ini dibangun dan dikembangkan dari pemanfaatan keunggulan-keunggulan Teknologi Level Kuanta, yang menitikberatkan pada proses digitalisasi (pemaknaan dalam) terhadap ilmu di level energi.
            Bila dilihat dari cara bekerja otak, pada umumnya proses penguasaan (mastering) terhadap sebuah keilmuan dan skill / keterampilan apapun dilakukan melalui 4 level:

1. Unconscious – Incompetent
(seseorang tidak menyadari kalau dia tidak memiliki kemampuan).
2. Conscious – Incompetent
(menyadari kalau tidak mampu) sehingga melakukan proses belajar.
3. Conscious – Competent
(menyadari kalau sudah memiliki kemampuan) karena proses belajar.
4. Unconscious – Competent
(tidak menyadari lagi dalam menggunakan kemampuannya), karena skill atau keilmuannya sudah memasuki level otomatis dan tersimpan dibawah sadar.

 
Level II dan level III adalah tahapan yang paling tidak nyaman. Pada tahap ini pada umumnya orang mengerahkan tenaga, pikiran, dan konsentrasinya untuk menguasai sebuah ketrampilan; biasanya dengan menghafal, membaca berulang-ulang, mengerjakan latihan-latihan, dan sebagainya. Meskipun mereka sudah menguasainya, mereka belum terbiasa dan masih ada rasa kekhawatiran hal-hal yang membuat kegagalan.
            Dalam metode pembelajarannya, Level Kuanta Mastering English melakukan proses percepatan / akselarasi, bahkan bisa juga dikatakan melakukan by-pass (mempersingkat) proses pembelajaran dari level I langsung ke level IV. Level I dan III dipotong / dilalui dengan cepat, sehingga proses belajar menjadi sangat mudah dan menyenangkan. Akibatnya, aktivitas belajar yang secara umum dianggap tidak nyaman, sulit, mengerahkan banyak tenaga, pikiran, dan konsentrasi dirubah sedemikian rupa menjadi sebuah proses yang asyik dan menyenangkan, sehingga menjadi sebuah kebutuhan. Belajar tidak lagi harus “berdarah-darah”, namun cukup dilakukan dengan tenang, rileks, dan menyenang-kan, sebab ilmu adalah kekuatan, kenikmatan, dan semangat, bukan beban berat yang terpaksa harus dijalani. Ia seharusnya menguatkan bukan malah membebani, membosankan, atau malah melelahkan.